Home is where the heart is...
"... Hari ini, Sayang, aku akan pulang, berlabuh di dekap cintamu, karena pelukmu akan slalu membuat diriku jatuh cinta..." (Pulang -- Andien)
Libur (panjang) empat hari kemarin barangkali menjadi hari yang sibuk bagi bandara, stasiun, kereta, juga terminal bus. Alasannya jelas: banyak perantau yang pulang ke kampung, banyak pula yang berwisata memanfaatkan waktu libur kerja. Saya sendiri memilih pulang ke rumah, tempat orang tua dan adik-adik serta saudara berada.
Libur yang hanya beberapa hari, lalu lintas yang pasti padat, harga tiket yang mahal, serta jarak jauh yang memantik lelah perjalanan. Apa yang sebenarnya dicari lewat kepulangan ke kampung halaman, jika pada dasarnya biaya--yang tampak maupun tidak--yang harus dikorbankan besar?
Dulu, saat masih di tempat tugas sebelumnya, saya selalu bungah tiap kali menginjak Jakarta lagi. Kota yang luar biasa mengerikan itu bisa memberi perasaan pulang, pikir saya saat itu. Sekarang? Saya heran, mengapa Jakarta rasanya biasa saja. Sama halnya saya heran apa alasannya saya dulu girang tiap ke sana.
Pulang bukan hanya sekadar soal tempat. Bukan tentang kampung yang airnya lebih deras atau tanahnya lebih subur daripada kota rantau. Bukan pula tentang lebih banyaknya mal yang dapat ditemui di kampung.
Pulang adalah tentang menuju perasaan yang tenang. Ayem, sampai tak sempat berprasangka atau was-was.
Pulang adalah tentang menebus rindu yang meradang. 'Balas dendam' kepada keadaan dan waktu, sekaligus berterima kasih kepada mereka akan adanya kesempatan yang mempertemukan.
Pulang adalah tentang lelah yang tak berarti apa-apa, setelah bertemu 'tempat' rebah yang membuatnya hilang tak terasa.
'Pulang', tak hanya identik dengan satu tempat. Dan 'rumah', tak hanya sebuah. Seperti saat ini, saya bersyukur bisa pulang lagi ke Kendari, setelah berlibur ke kampung halaman. Saya pun bersyukur karena, lewat catatan ini, bisa sejenak 'pulang' dan mengisi 'rumah': dunia menulis yang--menurut klaim seorang saya yang belagu ini--saya cintai.
"Hands build a house, hearts build a home," begitu kata pepatah. Selamat pulang, hati-hati di jalan, semoga tak salah arah!
(NB: tulisan yang sama saya muat di catatan Facebook, 20 Mei 2012)
